I Cholesterol » February 5, 2020

Daily Archives: February 5, 2020

General

5 Cara Mengatasi Emotional Eating Berikut, Yuk!

Published by:

Apa kamu pernah ngalamin gangguan makan? Misalnya, ketika lagi marah, tiba-tiba pengen melahap semua yang ada di meja makan. Kondisi itu disebut dengan emotional eating. Sesuai dengan namanya, keinginan untuk makan yang kamu rasakan bukan didasari oleh kebutuhan fisik, melainkan emosional. Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu yang lama, kamu bisa beresiko mengalami masalah kesehatan, loh! Jadi, segera hentikan dengan cara mengatasi emotional eating berikut!

Cara Atasi Emotional Eating

Emotional eating merupakan keinginan untuk menyantap makanan lebih banyak dari biasanya lantaran kondisi emosi yang nggak stabil atau lelah dengan rutinitas. Seperti yang telah disebutkan, emotional eating bukan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, tapi sebagai pelampiasan atas emosi yang tengah dirasakan. Apa bedanya?

Lapar fisik biasanya datang secara bertahap, bisa menunggu, berhenti ketika sudah kenyang, mempertimbangkan makanan yang sehat dan tidak memicu penyesalan atau rasa bersalah terhadap diri sendiri. Sedangkan lapar emosi umumnya datang secara tiba-tiba, keinginan untuk makan harus segera dituruti, berhenti saat sudah puas, membutuhkan kenyamanan pada makanan tertentu dan memicu perasaan bersalah setelah makan.

Kalau kebiasaan emotional eating dilakukan secara terus menerus, kamu bisa kelebihan asupan makanan dan berdampak pada naiknya berat badan. Tapi, jangan khawatir. Kebiasaan tersebut bisa diatasi, kok. Caranya?

1. Mengetahui Penyebabnya

Faktor utama yang memicu emotional eating adalah kebiasaan sejak kecil dan kondisi-kondisi emosi, seperti stress, marah, bosan, sedih, takut serta malu. Umumnya, emotional eaters punya pemicu spesifik yang bikin mereka pengen makan manis atau asin. Misal, kamu tiba-tiba ingin menyantap sushi karena menonton film Jepang. Apabila mengalaminya, tulis pada selembar kertas untuk membantumu mengurangi kebiasaan tersebut.

2. Petakan Aktifitas yang Bisa Picu Emotional Eating

Lanjutan dari poin pertama, kamu bisa membuat pemetaan terhadap kegiatan-kegiatan apa saja yang hendak dilakukan esok hari atau pekan depan. Entah pergi kuliah, janjian dengan klien di suatu tempat, menghadiri pesta ulang tahun teman lama atau belanja bulanan. Setelah itu, tandai kegiatan atau tempat yang dapat memicumu untuk makan lebih banyak.

Pemetaan ini nggak hanya membantu mengetahui seberapa produktifnya kamu, tapi juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi masalah utama. Contohnya, kamu jadi lebih banyak makan setelah ketemuan dengan klien di sebuah kafe. Dari pemetaan tersebut, kamu pun dapat melihat aktifitas mana saja yang jadi sumber stress dan bikin kamu melampiaskannya ke makanan.

3. Bikin Daftar 5 Hal

Ketika kamu tidak bisa menghentikan dorongan untuk makan yang tak terkendali, distraksi adalah solusi yang tepat. Susan Albers Psy.D., seorang psikolog dari Cleveland Clinic menyampaikan bahwa distraksi dapat mengalihkan perhatianmu, dari yang semula fokus pada keinginan untuk makan, jadi ke aktifitas lain.

Untuk membantumu menerapkannya, coba tulis 5 hal yang bisa mengurangi stress, misal mendengarkan musik, membaca buku, menggambar dan hobi lain yang kamu suka pada selembar kertas. Lalu, tempelkan kertas tersebut di pintu kulkas, lemari penyimpanan snack atau meja makan. Kalo kamu mulai merasa lapar, pilih satu di antara kegiatan itu dan lakukan selama 5 menit. Dengan begitu, perhatianmu bakal teralihkan ke sana.

4. Buat Skala Lapar

Perutmu udah keroncongan lagi, padahal baru diisi beberapa waktu yang lalu. Coba ingat-ingat, jam berapa terakhir kamu makan. Jika jaraknya hanya 2 jam dari waktu makan sebelumnya, mungkin kamu nggak lapar, melainkan haus. Jadi, jangan langsung makan dulu, ya. Lebih baik minum yang banyak.

Membuat skala lapar dari 1-10, mulai dari amat kelaparan hingga amat kekenyangan juga bisa membantu. Kamu akan tahu apakah itu lapar fisik atau sekadar lapar emosi.

5. Grounding Pikiran dan Tubuhmu

Cara mengatasi emotional eating berikutnya adalah melakukan grounding. Grounding sendiri merupakan salah satu teknik yang paling efektif untuk membantumu bertahan melewati kondisi emosional yang berat. Teknik tersebut bekerja dengan membawa fokus pikiranmu untuk menyadari apa yang sedang terjadi sekarang, daripada tetap memikirkan hal-hal yang bikin dirimu resah.

Teknik grounding bisa dilakukan dengan cara mengambil buku, majalah dan sebagainya, lalu pilih sebuah paragraf. Baca paragraf itu pada diri kamu sendiri, mulai dari kata yang paling akhir hingga paling awal. Lakukan teknik itu pada dua paragraf.

Selain pikiran, fisikmu juga perlu di-grounding. Susan Albers merekomendasikan beberapa cara, seperti memegang es batu dan membiarkannya mencair di antara jari-jari tangan, menggigit potongan buah lemon dan meletakkan tangan di bawah air panas atau dingin. Pokoknya, lakukan sesuatu yang bikin perhatianmu terfokus pada apa yang tengah terjadi pada tubuhmu.

Hidup emang penuh dengan kejutan yang bisa bikin emosi kamu naik-turun. Tapi, jangan biarkan dirimu kalah dengan keadaan dan melampiaskannya ke makanan, ya. Banyak, kok, cara yang lebih baik dan bijak untuk menyikapi masalah tanpa harus mengorbankan kesehatanmu, baik secara fisik maupun mental. Jika kamu tetap tidak bisa menghentikan kebiasaan tersebut, coba konsultasi dengan psikolog atau ahli gizi yang paham tentang konsep mindful eating atau intuitive eating.